Rabu, 16 September 2015

PENGELOLAAN LAHAN SECARA MAKSIMAL DENGAN SISTEM PERTANIAN TERPADU




Written by Risma Dewi Nugraheni/13846

Sistem Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta pengembangan desa secara terpadu. Diharapkan kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian ini (Artaji, 2011).
Sitem pertanian terpadu sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan lahan pertanian yang tersedia mengingat jumlah lahan untuk pertanian terutama di Indonesia sudah mulai menurun. Menurut Artaji(2011), Saat ini kebutuhan lahan kembali mencuat karena hasil panen yang semakin menurun sehubungan dengan penurunan produksi dan penyempitan lahan pertanian yang dialih-fungsikan, sedangkan kebutuhan pangan terus meningkat. Pulau Jawa setidaknya kehilangan 20.000 ha lahan pertanian setiap tahun akibat pemekaran kota di mana luasan lahan tersebut mampu menyediakan beras untuk 378.000 orang tiap tahun. Akibatnya lahan menjadi sumberdaya pertanian yang nilainya terus meningkat.
Usaha mengoptimalkan lahan pertanian yang sempit sebagai lahan pertanian yang produktif salah satunya dengan cara sistem pertanian yang ramah lingkungan. Sistem pertanian yang ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sistem pertanian terpadu dengan konsep LEISA (low-external-input and sustainable agriculture). LEISA merupakan sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan limbah produksi pertanian sebagai masukan sehingga mengurangi penggunaan masukan luar. Limbah dari produksi pertanian meliputi kotoran ternak serta limbah organik dari tanaman (Mardiyanto, 2009).
Namun, hanya dengan usaha LEISA tersebut tentunya belum bisa menyelesaikan masalah berkurangnya lahan pertanian. Pemanfaatan lahan gambut menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan mengingat jumlah lahan gambut cukup luas dan belum banyak dimanfaatkan. Meski lahan gambut memiliki sumber hara yang sedikit, dengan pengelolaan lahan gambut yang sesuai dengan sistem pertanian terpadu dapat memberikan banyak keuntungan.
Menurut surat kabar online yang berada di provinsi Riau pada tahun 2015, Sebanyak 6 ton timun berhasil dipanen kelompok tani binaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Mekar Tani di Desa Sungai Lipai, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar. Kelompok tani ini berhasil mengembangkan komoditas timun menggunakan media lahan gambut dengan menerapkan sistem Integrated Farming System (IFS) yang dilatih melalui program Community Development (CD) RAPP. Selain pembinaan di bidang pertanian, RAPP juga memberikan bantuan bergulir sebanyak 14 ekor sapi kepada Kelompok Tani Rizki Mandiri, di Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar. Bantuan ini langsung diserahkan dokter hewan RAPP, Dr. Wibisono didampingi Community Development (CD) Officer, M. Daim, Selasa (12/5) beberapa waktu lalu. Bahkan jumlah sapi saat ini sudah mencapai 72 ekor.
Dengan sistem pertanian terpadu, diharapkan masyarakat bisa mengelola lahan pertanian semaksimal mungkin untuk memberikan keuntungan yang maksimal pula. Selain itu, sistem pertanian terpadu juga dapat mewujudkan swasembada pangan. Penerapan sistem pertanian terpadu yang baik juga harus diperhatikan agar hasil bisa sesuai harapan.


Referensi

Ansam, H. 2015. Melalui Sistem Pertanian Terpadu, Petani Binaan RAPP Panen 6 Ton Timun dan Ternak 72 Ekor Sapi. <http://www.goriau.com/berita/kampar/melalui-sistem-pertanian-terpadu-petani-binaan-rapp-panen-6-ton-timun-dan-ternak-72-ekor-sapi.html>. Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 08.30.

Artaji, W. 2011. Sistem Pertanian Terpadu - Model Pertanian Terpadu dalam Satu Siklus Biologi (Integrated Bio Cycle Farming). <http://www.kompasiana.com/windiartaji/sistem-pertanian-terpadu-model-pertanian-terpadu-dalam-satu-siklus-biologi-integrated-bio-cycle-farming_550e5bf6813311c02cbc642e>. Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 07.30.

Mardiyanto, Anggi. 2009. Perencanaan Lanskap Pekarangan dengan Sistem Pertanian Terpadu. <http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/18384>. Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 07.45.



1 komentar:

Kelompok dua PKP 2015 mengatakan...

dikomentari oleh Dwi Arum Permatasari (13748)

1. Nilai penyuluhan
a. Sumber teknologi/Ide : Pertanian terpadu dicapai dengan langkah memaksimalkan lahan yang ada, misalnya lahan gambut dimanfaatkan untuk budidaya.
b. Sasaran : masyarakat yang masih memiliki lahan, terutama lahan gambut
c. Manfaat : artikel tersebut memberikan informasi bahwa lahan gambut pun dapat dimanfaatkan untuk budidaya
d. Nilai pendidikan : memberi pengarahan agar pembaca dapat berusaha memanfaatkan lahan yang ada agar manusia tetap dapat tercukupi kebutuhan pangannya

2. Nilai berita
a. timeline :artikel tersebut memaparkan ide baru yang belum banyak diketahui massa.
b. proximity : artikel telah memberi bukti nyata di Riau sehingga diharapkan masyarakat dapat menerima ide tersebut,
c. Importance : artikel tersebut patut dibaca karena isinya adalah ide baru yang belum banyak diketahui masyarakat dan dampaknya bisa bermanfaat untuk kelangsungan hidup masyarakat
d. Policy : -
e. Prominence :Bantuan yang diberikan oleh RAPP langsung diserahkan oleh dokter hewan RAPP, Dr. Wibisono didampingi Community Development (CD) Officer, M. Daim.
f. Consequence: memberikan dampak positif bagi bidang pertanian.
g. conflict :-
h. Development: Artikel berhubungan dengan pengembangan sistem pertanian dengan lahan gambut yang cocok dilakukan di Indonesia.
i. Disaster & crime :-
j. Weather :-
k. Sport: -
l. Human Interest : Artikel menarik minat pembaca karena memberi informasi baru dan diharapkan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.

Posting Komentar