Written
by Risma Dewi Nugraheni/13846
Sistem Pertanian terpadu merupakan
sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan
dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga
diharapkan dapat sebagai salah satu solusi bagi peningkatan produktivitas
lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta pengembangan desa
secara terpadu. Diharapkan kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang
petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian
ini (Artaji, 2011).
Sitem pertanian terpadu sangat
dibutuhkan untuk memaksimalkan lahan pertanian yang tersedia mengingat jumlah
lahan untuk pertanian terutama di Indonesia sudah mulai menurun. Menurut
Artaji(2011), Saat ini kebutuhan lahan kembali mencuat karena hasil panen yang
semakin menurun sehubungan dengan penurunan produksi dan penyempitan lahan
pertanian yang dialih-fungsikan, sedangkan kebutuhan pangan terus meningkat.
Pulau Jawa setidaknya kehilangan 20.000 ha lahan pertanian setiap tahun akibat
pemekaran kota di mana luasan lahan tersebut mampu menyediakan beras untuk
378.000 orang tiap tahun. Akibatnya lahan menjadi sumberdaya pertanian yang
nilainya terus meningkat.
Usaha mengoptimalkan lahan pertanian
yang sempit sebagai lahan pertanian yang produktif salah satunya dengan cara
sistem pertanian yang ramah lingkungan. Sistem pertanian yang ramah lingkungan
yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sistem
pertanian terpadu dengan konsep LEISA (low-external-input and sustainable
agriculture). LEISA merupakan sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan limbah
produksi pertanian sebagai masukan sehingga mengurangi penggunaan masukan luar.
Limbah dari produksi pertanian meliputi kotoran ternak serta limbah organik
dari tanaman (Mardiyanto, 2009).
Namun, hanya dengan usaha LEISA tersebut
tentunya belum bisa menyelesaikan masalah berkurangnya lahan pertanian.
Pemanfaatan lahan gambut menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan
mengingat jumlah lahan gambut cukup luas dan belum banyak dimanfaatkan. Meski
lahan gambut memiliki sumber hara yang sedikit, dengan pengelolaan lahan gambut
yang sesuai dengan sistem pertanian terpadu dapat memberikan banyak keuntungan.
Menurut surat kabar online yang berada
di provinsi Riau pada tahun 2015, Sebanyak 6 ton timun berhasil
dipanen kelompok tani binaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Mekar Tani
di Desa Sungai Lipai, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar. Kelompok tani
ini berhasil mengembangkan komoditas timun menggunakan media lahan gambut
dengan menerapkan sistem Integrated Farming System (IFS) yang dilatih melalui
program Community Development (CD) RAPP. Selain pembinaan di bidang pertanian,
RAPP juga memberikan bantuan bergulir sebanyak 14 ekor sapi kepada Kelompok
Tani Rizki Mandiri, di Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten
Kampar. Bantuan ini langsung diserahkan dokter hewan RAPP, Dr. Wibisono
didampingi Community Development (CD) Officer, M. Daim, Selasa (12/5) beberapa
waktu lalu. Bahkan jumlah sapi saat ini sudah mencapai 72 ekor.
Dengan sistem pertanian terpadu, diharapkan masyarakat
bisa mengelola lahan pertanian semaksimal mungkin untuk memberikan keuntungan
yang maksimal pula. Selain itu, sistem pertanian terpadu juga dapat mewujudkan
swasembada pangan. Penerapan sistem pertanian terpadu yang baik juga harus
diperhatikan agar hasil bisa sesuai harapan.
Referensi
Ansam,
H. 2015. Melalui Sistem Pertanian Terpadu, Petani Binaan RAPP Panen 6 Ton Timun dan
Ternak 72 Ekor Sapi. <http://www.goriau.com/berita/kampar/melalui-sistem-pertanian-terpadu-petani-binaan-rapp-panen-6-ton-timun-dan-ternak-72-ekor-sapi.html>.
Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 08.30.
Artaji, W. 2011. Sistem Pertanian Terpadu - Model Pertanian Terpadu dalam Satu Siklus Biologi (Integrated Bio Cycle Farming). <http://www.kompasiana.com/windiartaji/sistem-pertanian-terpadu-model-pertanian-terpadu-dalam-satu-siklus-biologi-integrated-bio-cycle-farming_550e5bf6813311c02cbc642e>. Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 07.30.
Mardiyanto,
Anggi. 2009. Perencanaan Lanskap Pekarangan dengan Sistem Pertanian Terpadu. <http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/18384>.
Diakses pada tanggal 17 September 2015 pukul 07.45.
1 komentar:
dikomentari oleh Dwi Arum Permatasari (13748)
1. Nilai penyuluhan
a. Sumber teknologi/Ide : Pertanian terpadu dicapai dengan langkah memaksimalkan lahan yang ada, misalnya lahan gambut dimanfaatkan untuk budidaya.
b. Sasaran : masyarakat yang masih memiliki lahan, terutama lahan gambut
c. Manfaat : artikel tersebut memberikan informasi bahwa lahan gambut pun dapat dimanfaatkan untuk budidaya
d. Nilai pendidikan : memberi pengarahan agar pembaca dapat berusaha memanfaatkan lahan yang ada agar manusia tetap dapat tercukupi kebutuhan pangannya
2. Nilai berita
a. timeline :artikel tersebut memaparkan ide baru yang belum banyak diketahui massa.
b. proximity : artikel telah memberi bukti nyata di Riau sehingga diharapkan masyarakat dapat menerima ide tersebut,
c. Importance : artikel tersebut patut dibaca karena isinya adalah ide baru yang belum banyak diketahui masyarakat dan dampaknya bisa bermanfaat untuk kelangsungan hidup masyarakat
d. Policy : -
e. Prominence :Bantuan yang diberikan oleh RAPP langsung diserahkan oleh dokter hewan RAPP, Dr. Wibisono didampingi Community Development (CD) Officer, M. Daim.
f. Consequence: memberikan dampak positif bagi bidang pertanian.
g. conflict :-
h. Development: Artikel berhubungan dengan pengembangan sistem pertanian dengan lahan gambut yang cocok dilakukan di Indonesia.
i. Disaster & crime :-
j. Weather :-
k. Sport: -
l. Human Interest : Artikel menarik minat pembaca karena memberi informasi baru dan diharapkan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.
Posting Komentar